Ads Top

PSEUDO-KUFIC: Misteri Lafadz Allah Pada Lukisan Maria & Yesus, Bukti Besarnya Pengaruh Islam Terhadap Eropa


Film '99 Cahaya di Langit Eropa' merupakan film yang menceritakan pencarian jejak peradaban Islam di masa lalu. Termasuk misteri tulisan Arab dalam kerudung lukisan Bunda Maria di Museum Louvre.

Salah satu adegan film '99 Cahaya di Langit Eropa' memang menggunakan set interior museum Louvre di Paris saat Hanum dan Marion (Dewi Sandra) berjalan-jalan melewati Islamic Gallery di Louvre. Hanum yang diperankan Acha Septriasa, diceritakan adalah seorang reporter dengan rasa ingin tahu yang besar, kemudian berusaha banyak mencari tahu tentang sisa-sisa peradaban Islam di Eropa.

Mereka berdua kemudian menemukan sebuah lukisan karya pelukis Italia kuno yang menggunakan model Bunda Maria berkerudung yang tengah menggendong bayi Yesus.


Marion kemudian mengatakan bahwa ada selipan kaligrafi dengan style kufi di kerudung Maria yang serupa dengan lafadz tauhid. Lukisan ini bernama The Virgin and The Child karya Ugolino di Nerio sekitaran tahun 1315–1320 yang juga memiliki nama lain yakni Madonna and The Child.

Adapun tulisan kaligrafi yang terlihat pada lukisan Ugolino ini disebut dengan Pseudo-Kufic, atau Kufisque atau pula Pseudo-Arabic. Merupakan gaya dekorasi yang digunakan selama Abad Pertengahan dan Renaissance,[1] yang terdiri dari tiruan aksara Kufi Arab , atau terkadang aksara kursif Arab, dibuat dalam konteks non-Arab: "Imitasi bahasa Arab dalam seni Eropa sering disebut sebagai pseudo-Kufic, meminjam istilah untuk aksara Arab yang menekankan guratan lurus dan sudut, dan paling umum digunakan dalam dekorasi arsitektur Islam".[2] Ini merupakan contoh pengaruh Islam terhadap seni barat.

Pseudo-kufic ini pertama kali terlihat pada abad ke 8 masehi yang terpahat dalam koin emas era raja Offa dari Mercian yang berkuasa tahun 757–796 di Inggris. Koin ini disebut Mancus/Manqush (kadang dieja Mancosus), yang diyakini diambil dari bahasa Arab yakni منقوش manqūsh berarti menempa, berasal dari kalimat al dinar al manqush yang berarti menempa koin emas[3].

Sekilas dapat dibaca terdapat tulisan Offa dan Rex pada koin ini, namun kalau dibalik koin mancus ini akan terbaca tulisan Muhammad Rasulullah, begitu pula pada bagian belakangnya dengan kalimat tauhid. Bukan berarti raja Offa kemudian menjadi mualaf yang menyebabkan munculnya kalimat tahuid pada koin ini. Melainkan sepertinya koin ini meniru koin emas Dinar yang secara bersamaan dipakai pada pemerintahan Khilafah Abbasiyah cetakan era khalifah Al-Mansur yang masyhur digunakan pada masa itu. Sehingga penempa koin ini tidak memahami jika tulisan itu merupakan kalimat sakral dalam Islam[4]. Karena tulisan dapat dibaca maka disebut kufisque (karena menggunakan style kufi) bukan pseudo-kufic.
Koin Mancus (atas) serta koin Dinar (bawah)
Koin emas yang juga mengandung kufisque ini juga terlihat di Spanyol pada abad 11 dan 14. Koin ini disebut Maravedí dari kata Al-Murabithun. Murabithun merupakan kekaisaran Berber Muslim di Maroko yang membentengi Andalusia dari kekaisaran Kristen.

Setelah beralih ke tangan dinasti Kristen, koin emas disebut Maravedi untuk membedakan dengan koin dinar Ummayah yang sedikit lebih berat[5]. Bedanya, tulisan dalam koin ini sudah disesuaikan dengan doktrin ajaran Kristen.

Adapun koin yang mengandung tulisan arab namun tidak dapat terbaca terlihat pada abad ke 13 di Italia selatan (di kota-kota pedagang seperti Amalfi dan Salerno) yang disebut Tarì dari bahasa Arab طري Tari, yang berarti menyala "segar" atau "uang baru dicetak"[6]. Roger II dari Sisilia mengeluarkan koin semacam itu, menjadi satu-satunya penguasa Barat pada waktu itu yang mencetak koin emas[7].

Maravedi (atas) dan Tari (bawah)

Penggunaan tulisan Arab juga muncul pada pakaian mantel kebesaran raja Roger II. Barang mewah ini dibuat untuk acara khusus untuk menunjukkan kekuatan dan kebesaran. Kemungkinan besar dipakai sebagai simbol kemenangan dan dinasti baru di Sisilia. kemudian digunakan sebagai jubah penobatan oleh Kaisar Romawi Suci dan sekarang berada di Perbendaharaan Kekaisaran (Schatzkammer) di Wina. Sepanjang ujung mantel dihiasi dengan kaligrafi khat kufi. Tulisan ini dapat dibaca dan berisi kata-kata berkat serta tidak mengandung doktrin Islam.


Hal ini juga berlaku pada seni arsitektur eropa juga. Contohnya seperti ukiran kaligrafi yang ada di jendela Gereja Iglesia De San Román di Toledo. Atau seperti yang nampak pada mozaiknya jendela Gereja Santissima Annunziata dan Florense yang menggunakan gaya khat thuluts atau Naskh bukan gaya Kufi[8]. Karena bukan menggunakan gaya khat Kufi, sehingga tulisan arab ini lebih disebut dengan Pseudo-Arabic saja.

Style Pseudo-Kufic dalam seni arsitektur juga muncul pada Kastil Alcazar di Sevilla dibangun untuk raja Kristen Peter dari Kastilia, yang mencoba meniru Istana Al-Hambra. Gereja Katedral Sevilla pada fasad pintunya juga terlihat kaligrafi Pseudo-Kufic[9].

Unsur-unsur dekorasi ini menunjukkan bahwa, tingginya minat orang-orang eropa dan bangsawan kristen terhadap seni ornamen Islam pada masa itu.

Sehingga tidak heran, ornamen kaligrafi ini juga disandingkan dengan berlian dan dipahat pada benda-benda mewah, seperti ukiran kaligrafi pseudo-kufic pada Sibori Limoges Enamel dengan nama Maître Alpais[10]. Sibori merupakan semacam wadah atau piala yang digunakan sebagai atribut ritual dalam gereja pada abad pertengahan.

Pseudo-kufic pada seni lukisan di Eropa muncul sekitar abad ke-10 hingga abad ke-15. Prasasti Pseudo-Kufic sering digunakan sebagai pita dekoratif dalam arsitektur Yunani Bizantium dari pertengahan abad ke-11 hingga pertengahan abad ke-12, dan pada pita dekoratif di sekitar pemandangan religius dalam lukisan dinding Prancis dan Jerman dari pertengahan abad ke-12 hingga pertengahan abad ke-13, serta iluminasi manuskrip kontemporer[11]. Banyak yang terlihat dalam lukisan Giotto (c. 1267 - 1337)[12]. Seniman lain yang juga menggunakan pseudo-kufi ini seperti Gentile da Fabriano, Francesco Squarcione, Andrea Mantegna, San Zeno Altarpiece dan lainnya.

Tidak hanya lukisan, fenomena ini juga muncul pada seni ukir patung. Contohnya seperti terlihat pada patung Raja David muda karyanya dari Andrea del Verocchio yang diceritakan dalam Alkitab Bible. Braden K. Frieder mengatakan "Dalam seni Renaisans, naskah pseudo-kufi digunakan untuk menghiasi kostum pahlawan Perjanjian Lama seperti David"[13]. Hal ini mungkin terjadi karena senimannya ingin diterima oleh peradaban yang lebih tinggi ketika itu yakni Islam untuk dipadukan dengan tradisi budaya Kristen[14].

Fenomena ini menunjukkan betapa superiornya peradaban Islam pada abad pertengahan. Pada era ini Islam tengah berada pada masa keemasannya (golden age) sejak kekuasaan bani Abbasiyah. Namun pada abad pertengahan pula Eropa sedang mengalami kemunduran yang disebut masa kegelapan (dark ages).

_______________
[1] https://www.britannica.com/story/beautiful-gibberish-fake-arabic-in-medieval-and-renaissance-art
[2] Rosamond E Mack, Bazaar to Piazza: Islamic Trade and Italian Art, 1300–1600 (California: University of California Press, 2001) hlm. 51
[3] Michael McCormick, Origins of the European Economy: Communications and Commerce AD 300-900 (Cambridge: Cambridge University, 2001), hlm. 323
[4] Tim Mackintosh-Smith, Arabs: A 3000-Year History Of Peoples, Tribes And Empires (Wales: Yale University, 2019) hlm. 263
[5] Alexander Del Mar, Money And Civilization (London: George Bell And Sons, 1886), hlm. 85
[6] Franco Cardini, Eropa and Islam (Blackwell Publishing, 2001), hlm. 2
[7] Donald Matthew, The Norman kingdom of Sicily (Cambridge University Press, 1992) hlm. 240
[8] Maria Vittoria Fontana, Islam and the West. Arabic Inscriptions and Pseudo Inscriptions (Universitas Studiorum, 2020) hlm. 32
[9] John Victor Tolan, dkk, Europe and the Islamic World: A History (Princeton University Press, 2013) hlm. 95
[10] Jordi Camps, dkk, Romanesque Patrons and Processes (New York: Routledge, 2018) hlm. 30
[11] Rosamond E Mack, Bazaar to Piazza... hlm. 68
[12] Rosamond E Mack, Bazaar to Piazza... hlm. 51
[13] Braden K. Frieder, Chivalry & the perfect prince: tournaments, art, and armor at the Spanish Habsburg court (Truman State University, 2008) hlm. 84
[14] Rosamond E Mack, Bazaar to Piazza... hlm. 69

2 komentar:

  1. Salut saya , terhadap jaman kejayaan Islam pada abad pertengahan.
    Semoga kejayaan Islam akan terulang lagi, hingga akhir masa.
    Aamiin..

    BalasHapus
  2. semoga diberi kemudahan dalam proses dakwahnya..

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.