Ads Top

Allah Tercipta Dari Keringat Kuda? Hadits Yang digunakan Misionaris Seperti Christian Prince


Upaya misionaris untuk mengkritik Islam kadang membuat kita keheranan, karena mereka hal-hal hal-hal aneh yang jarang kita dengar. Mereka rajin menggali-gali buku untuk mencari hal-hal yang dianggap aneh untuk digunakan dalam upaya menjelekkan Islam. Namun, seperti yang sudah kita bahas sebelumnya, polemik dan klaim yang mereka angkat biasanya kalau bukan karena kesalahan memahami teks akibat ketergantungan pada terjemahan, ya membawa data yang tidak valid seperti pernyataan palsu, hadis-hadis yang bermasalah, atau pernyataan yang sengaja dipotong dari konteks aslinya.

Salah satu contoh yang mencolok dari kampanye misinformasi ini adalah pengutipan salah satu hadis yang diduga berasal dari kitab Imam Suyuti, yang menyatakan bahwa "Allah diciptakan dari keringat kuda." Tuduhan ini tidak hanya bertentangan dengan keyakinan dasar Islam tetapi juga menunjukkan manipulasi sadar terhadap teks-teks Islam untuk tujuan polemik.

Christian Prince dalam salah satu videonya memanfaatkan data ini (lagi-lagi) untuk mempengaruhi umat Islam. Lalu klaim tersebut didaur ulang kalangan misionaris lokal lainnya tanpa menyadari kecacatan dibalik argumen yang mereka bawakan.

Itu karena hadis yang diduga menyatakan bahwa Allah diciptakan dari keringat kuda ini secara tegas adalah palsu dan menyesatkan. Naratif ini berasal dari kitab Al-ali al-Masnu'ah fi Al-ahadits Al-Maudhu'ah yang dikutip oleh Christian Prince dalam sebuah videonya, sebuah kumpulan karya Imam Suyuti yang khusus disusun untuk mencatat hadis-hadis palsu yang beredar pada zamannya. Imam Suyuti, yang terkenal dengan ketelitian ilmiahnya dan pendekatan sistematis dalam kajian hadis, tidak hanya mendokumentasikan fabrications ini tetapi juga memberikan analisis kritis dan peringatan agar tidak menerima narasi semacam ini sebagai ajaran Islam yang sahih.

Namun Christian Prince dalam memuluskan tujuannya, ia sengaja untuk tidak menampilkan judul rujukan kitabnya dan hanya membaca bagian riwayat palsunya. Karena sebenarnya ia tahu, ini adalah hadits palsu yang oleh imam Suyuthi dalam kitabnya sudah mengomentarinya palsu. CP mengaggap bahwa semua penonton muslimnya bodoh-bodoh dan tidak paham bahasa Arab sehingga mudah untuk dibohongi.

Hadits terkait dalam kitabnya berbunyi sebagai berikut:

إن الله لما أراد أن يخلق نفسه خلق الخيل، فأجراها حتى عرقت، ثم خلق نفسه من ذلك العرق

"ketika Allah ingin menciptakan diri-Nya sendiri, Dia menciptakan kuda terlebih dahulu dan membiarkan berpacu sampai berkeringat. Kemudian Dia menciptakan diri-Nya dari keringat kudanya"

Padahal pada kalimat berikutnya imam Suyuthi menjelaskan:

مِمَّا لا يجوز أن يُروى، ولا يحلُّ أن يُعتقد، وكان مذهبُه مذهبَ السالمية، يقول بالظاهر، ويتمسَّك بالأحاديث الضعيفة لتقوية مذهبه، وحديث إجراء الخيل موضوع، وضعه بعضُ الزنادقة ليشنِّع به على أصحاب الحديث في روايتهم المستحيل، فحمله بعضُ مَن لا عقل له ورواه، هو مِمَّا يُقطع ببطلانه شرعًا وعقلًا

(riwayat ini) tidak boleh diriwayatkan, dan tidak boleh dipercayai, dan iin adalah doktrinnya sekte al-Salamiyah. Mereka meyakini secara harfiah, dan mengandalkan pada hadis-hadis lemah untuk memperkuat keyakinan mereka. Hadis tentang penciptaan kuda adalah palsu, dibuat oleh beberapa orang zindiq untuk mengkambing hitamkan para ahli hadis dengan menuduh mereka telah meriwayatkan hadits yang aneh. Beberapa orang yang tidak berakal menerimanya dan menyebrkannya, padahal hadis ini jelas-jelas secara syariat dan akal bathil.

Komentar Imam As-Suyuthi sebenarnya mengutip ulang dari komentar Ibn Hajar Al-Asqalani dalam kitabnya Lisan Al-Misan. Jauh sebelum itu Ibnul Jauzi dalam kitabnya Al-Maudhu'at telah mengomentari hadits tekait sebagai berikut:

هذا حديث لا يشك في وضعه، وما وضع مثل هذا مسلم، وإنه لمن أرك الموضوعات وأدبرها، إذ هو مستحيل لان الخالق لا يخلق نفسه.

"Ini adalah hadis yang tidak diragukan lagi palsu, dan tidak ada seorang Muslim pun yang akan mengada-adakan hadis seperti itu, karena mustahil karena Sang Pencipta menciptakan dirinya sendiri."

Eksploitasi naratif palsu ini oleh para misionaris mencerminkan strategi lebih luas untuk memutarbalikkan ajaran Islam dan mencoreng citra agama. Dengan memilih kutipan secara selektif dan menghilangkan kritik ilmiah yang penting, mereka memperkuat narasi yang salah dan bertujuan merusak kepercayaan masyarakat terhadap Islam.

Nyatanya mereka mengutip sebuah hadits palsu dari sebuah kitab yang memuat daftar hadits-hadits palsu yang ditulis oleh Al-Imam As-Suyuthi, kemudian komentar Imam Suyuthi soal kepalsuan hadits ini dihilangkan, lalu dengan 'bergairahnya' mereka mengatakan bahwa imam suyuthi mengatakan begini dan begitu dan dengan begitu mereka mengira sudah dapat menyudutkan Islam dengan data mereka tanpa menyadari kecacatan yang dibuatnya.

Lebih lanjut, secara nalar rasio dan teologi redaksi hadits palsu ini juga bermasalah. Karena konsep teologis dalam Islam itu memahami bahwa Allah tidak diciptakan dan tidak ada yang mendahuluinya. Namun hadits tadi secara gamblang menceritakan bahwa Allah tercipta dari keringat kuda, itu sendiri sudah bermasalah secara nalar teologis, karena bertentangan dengan konsepsi keyakinan yang fundamental dalam Islam sendiri, mengenai Allah. Bahwa Allah tidak diciptakan, tidak dimulakan dan tidak memiliki permulaan. Nah ini namanya mengkompromikan redaksi terkait dengan nalar teologis.

Setelah dikompromikan secara konsep teologis, ternyata bermasalah!.  Kini secara rasio juga bermasalah karena menciptakan looping yang disebut kausalitas paradok. Yakni pada hadits palsu itu dikatakan pada mulanya Tuhan menciptakan kuda, dan karena kuda itu pula Ia diciptakan. Padahal sebelum kuda itu diciptakan, Tuhan itu diketahui sudah ada, namun rancunya disebutkan lagi bahwa karena kuda itu Tuhan lalu tercipta. Begitulah berputar-putar menjadi lingkaran looping karena paradoksi dan kerancuan yang dimilikinya.

Maka dengan demikian dapat simpulkan bahwa hadits tentang kuda ini sudah clear dan terbantahkan bahwa secara kritik sanad hadits ini merupakan hadits palsu dan secara kritik matan atau kritik teks redaksi juga bermasalah baik secara rasional maupun secara nalar teologis. Sehingga hadits ini tidak bisa dijadikan dalil atau rujukan baik digunakan sebagai argumen apalagi sebagai keyakinan.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.