Ads Top

ILMU ADAM TERNYATA LEBIH TINGGI DARI MALAIKAT, Kok bisa?

gambar dari https://dreamcatcherreality.com/
Pada ayat ke 30 dari surah Al-Baqarah, para malaikat mempertanyakan tentang kebijakan Allah akan penciptaan sebuah makhluk yang akan mendiami bumi sedangkan menurut malaikat makhluk ini (manusia) akan melakukan kerusakan diatas muka bumi?.


Allah pun kemudian menjelaskan kepada para malaikat tentang kelebihan Adam atas mereka-dalam hal ilmu pengetahuan. Allah berfirman, "Dan Dia (Allah) mengajarkan kepada Adam semua nama-nama (benda)." (QS. Al-Baqarah: 31)

Dalam tafsir Al-Munir menjelaskan selanjutnya Allah menguji para malaikat untuk membuktikan ketidakmampuan mereka dan menggugurkan anggapan mereka bahwa mereka lebih pantas menjadi khalifah daripada khalifah yang ditunjuk-Nya. Ujian ini diadakan setelah Allah mengajari Adam nama benda-benda materiil yang mendiami dunia ini, lalu Allah memperlihatkan benda-benda yang punya nama itu kepada para malaikat, atau Dia memperlihatkan beberapa sampel mereka-yakni Dia memperlihatkan individu-individunya, dengan dalil firman-Nya", sebab kata "'aradhahum -memperlihatkan" tidak bisa dipakai untuk menyatakan tentang nama-nama-, kemudian Allah berfirman kepada mereka, "Katakan kepada-Ku nama-nama mereka ini jika kalian benar dalam menganggap diri kalian lebih pantas menjadi khalifah daripada selain kalian." Ternyata mereka tak mampu. Akhirnya mereka berkata, "Wahai Tuhan kami, Mahasuci Engkau! Tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui segala sesuatu, lagi Maha Bijaksana dalam semua tindakan."

Namun, nama-nama apakah yang Allah ajarkan kepada Nabi Adam? setidaknya ada empat pendapat dari kalangan para ulama mengenai hal ini.

Pertama, Adam diajarkan nama-nama manusia, nama hewan, bumi, dataran rendah, laut, gunung, unta, keledai, dan nama-nama lainnya. Pendapat ini dikemukakan oleh Ibn Abbas yang diriwayatkan Ad-Dhahak.

Kedua, merupakan pendapat Mujahid, Sa'id bin Jubair, Qatadah, dan pendapat ulama lainnya. Allah mengajarkan kepada Adam nama lembaran, takdir, bunyi, sampai nama kentut yang tidak berbunyi serta nama semua binatang, nama semua burung, dan nama segala sesuatu."

Ketiga, Allah mengajarkan Adan nama-nama malaikat. Ini merupakan pendapat Ar-Rabi'

Keempat, pendapatnya Abdurrahman bin Zaid dimana Allah mengajarkan Adam nama-nama keturunannya.

Kelima, Hamid Asy-Syami mengatakan nama-nama bintang.

Adapun pendapat yang benar menurut Ibn Kathir adalah pendapat pertama yang dikemukakan oleh Ibn Abbas: "Allah mengajarkan Adam nama-nama semua dzat dan gerakannya, baik yang kecil maupun yang besar.

Berkaitan dengan hal ini, Imam Bukhari menyebutkan hadis yang berasal dari dia sendiri dan Imam Muslim dari jalur riwayat Sa'id dan Hisyam, dari Qatadah, dari Anas bin Malik, dari Rasulullah, beliau bersabda, "Orang-orang mukmin akan berkumpul pada hari Kiamat nanti seraya berkata: 'Andai saja ada yang memohonkan syafaat untuk kita kepada Tuhan kita.' Selanjutnya, mereka menemui (Nabi) Adam seraya berkata: "Engkau adalah bapak moyang manusia. Allah telah menciptakanmu dengan tangan-Nya. Dia juga telah memerintahkan para malaikat bersujud kepadamu & mengajarkanmu nama-nama segala sesuatu... " Bukhari menyebutkan hadits ini sampai selesai.

Ar-Razi dalam kitab tafsirnya menjelaskan bahwa Al-Asy'ari, al-Ka'bi, dan al-Juba'i  berargumen dengan ayat "Dan Dia (Allah) mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda) seluruhnya" untuk mendukung pandangan mereka bahwa semua bahasa bersifat tauqiifiy. Dalam artian, Allah telah menciptakan 'ilmun dharuuriy (pengetahuan dasar) mengenai kata-kata serta makna-makna itu, serta pula menciptakan pengetahuan bahwa kata-kata tersebut dipakai untuk mengungkapkan makna-makna itu.

Lalu Allah berfirman kepada hadapan para malaikat itu: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu sekalian memang benar orang-orang yang benar'!" (QS. Al-Baqarah: 31)

Berkata Hasan al-Bashri, para malaikat berkata ketika Allah hendak menciptakan Adam: 'Tidaklah Tuhan kami (Allah) menciptakan suatu makhluk, kecuali kami (malaikat) lebih berilmu darinya' ." Pernyataan para malaikat itu pun kemudian diuji. Hal ini dapat diketahui melalui firman-Nya: "Jika kamu sekalian memang orang-orang yang benar." Ada juga pendapat lainnya, sebagaimana telah kami jelaskan di dalam kitab tafsir (Tafsir Ibnu Katsir).

Para malaikat pun menjawab, "Mahasuci Engkau. Tiada yang kami ketahui selain dari yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya, Engkaulah yang Maha Mengetahui lagi Maha bijaksana." (QS. Al-Baqarah: 32) Maksudnya, Mahasuci Engkau. Tidak ada seorang pun yang mampu menguasai ilmu-Mu tanpa adanya pengajaran dari-Mu, sebagaimana disebutkan di dalam firman-Nya, "Dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah, melainkan apa yang dikehendaki-Nya." (QS. Al-Baqarah: 255)

Lalu Allah berfirman, Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini.' Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: "Bukankah sudah Kukatakan kepada kalian bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahsia langit beserta bumi dan mengetahui apa yang kalian tampakkan dan pula apa yang kalian sembunyikan?" (QS. Al-Baqarah: 33) Maksudnya, Allah mengetahui hal yang tersembunyi sebagaimana Dia mengetahui hal yang terlihat nyata.

Ada yang berpendapat bahwa maksud dari firman Allah: "Aku mengetahui apa yang kalian tampakkan" adalah perkataan para malaikat: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya ?" Adapun maksud firman Allah: "Dan (Allah mengetahui) apa yang kalian sembunyikan adalah lblis yang menyembunyikan kesombongan dan keangkuhan di dalam dirinya terhadap Adam. Demikianlah yang dikatakan oleh Sa'id bin Jubair,

Mujahid, as-Sadi, ad-Dhahak, dan ats-Tsauri. Pendapat ini dipilih oleh Ibnu Jarir. Adapun, Abu Aliyah, ar-Rabi', al-Hasan, dan Qatadah berpendapat bahwa firman Allah: "Dan (Allah mengetahui) apa yang kalian sembunyikan" maksudnya adalah perkataan malaikat: "Tidaklah Tuhan kami menciptakan suatu makhluk, kecuali kami lebih mengetahui (lebih berilmu) serta lebih mulia darinya."

Ayat-ayat yang menceritakan bagaimana Adam diberi tahu tentang nama benda-benda menunjukkan dengan jelas betapa mulianya manusia dibanding makhluk-makhluk lain, juga betapa besar keutamaan ilmu dibanding ibadah. Para malaikat lebih banyak ibadahnya daripada Adam. Namun meskipun demikian, para malaikat tidak mendapatkan kelayakan untuk menjadi khalifah. Ayat-ayat tersebut juga menunjukkan bahwa syarat untuk menjadi khalifah adalah memiliki ilmu pengetahuan, dan bahwa dalam hal ini Adam lebih utama daripada malaikat.

Ayat ini juga menunjukkan keutamaan ilmu pengetahuan. Hikmah penciptaan Adam yang ditampilkan oleh Allah  tidak lain adalah pengetahuannya. Seandainya ada sesuatu yang lebih mulia dari pada pengetahuan, tentu yang mesti ditampilkan adalah sesuatu tersebut, bukan ilmu pengetahuan.

Daftar Pustaka:
Az-Zuhaili, Wahbah. Tafsir Al-Munir Jilid 1 (Jakarta: Gema Insani, 2013)
Kathir, Ibnu. Kisah Para Nabi (Jakarta: QisthiPress, 2015)

1 komentar:

  1. ilmu pengetahuan yang bagaimana ya kak? apa ilmu pengetahuan alam atau biasa disebut ilmu eksakta yang sering kita pelajari di lembaga pendidika formal? atau apa ilmu pengetahuan agama kita sendiri, islam ?

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.