Ads Top

PAULUS PENDIRI KRISTEN? Begini Pandangan Dari Para Penulis & Sarjana Barat



Kritik terhadap Paulus mungkin sering didengar dari kalangan pemikir dan apologet Muslim seperti Ahmad Deedat dan Zakir Naik. Belakangan seorang ustadzah yang diklaim sebagai mantan biarawati Hj. Irena Handono menerbitkan sebuah buku secara terbatas mengenai Paulus dengan judul Paulus Sang Pendiri Kristen.

Namun menyimak kritik terhadap Paulus oleh pemikir Muslim mungkin dianggap cukup subjektif dan terkesan apologis -pun mungkin diselimuti dengan tendensi kebencian agama. Sehingga diperlukan pandangan yang lebih sekuler dan ilmiah untuk membahas sebuah doktrin agar menghasilkan kesimpulan yang objektif.

Oleh karena itu, berikut penulis paparkan bagaimana sosok Paulus yang menjadi figur sentral dalam doktrin kekristenan juga tidak lepas dari kritikan bahkan sekalipun dari kalangan sarjana barat.

Tentunya tulisan ini tidak bermaksud untuk menyerang suatu keyakinan tertentu. Walaupun kembali lagi kepada cara memandang pembaca, penulis mengajak pembaca untuk menyimak tulisan ini dengan penuh hikmat dan kebijaksanaan.

Penulis dengan keras melarang menjadikan tulisan ini sebagai bahan untuk menyerang keyakinan tertentu. Melainkan baik Muslim, Kristen atau agama apapun adalah bijak menjadikan tulisan ini sebagai tambahan wawasan untuk memantik semangat diskusi serta motivasi belajar lebih giat lagi. Tulisan ini tentu ditulis dengan nuansa akademik untuk menghindari narasi-narasi maupun aspek negatif lainnya.

Paulus atau nama aslinya Saulus dari Tarsus ini merupakan tokoh sentral penting bagi iman Kristiani. Dalam Roma pasal 11 ayat 13 ia mengklaim diri sebagai Apostle atau Rasul atau utusan untuk kalangan non-Yahudi. Dikarenakan sebelum kerasulan Paulus, pengikut Yesus umumnya dari kalangan bangsa Yahudi.

Klaim kerasulan Paulus sendiri bukan ujug-ujug klaim pribadi, dalam Kisah Para Rasul 9 :1-9 bahwa yang mengangkat Paulus sebagai Rasul adalah Yesus sendiri. Namun diwaktu yang sama, ketika itu Yesus sudah disalibkan. Sehingga Yesus yang menemui Paulus, yang diceritakan dalam Kisah Para Rasul ini merupakan Yesus yang wujud non-fisik. Dikarenakan Paulus tidak pernah menemui Yesus selama Yesus masih hidup.

Namun pertanyaanya mungkin, siapakah yang menulis cerita pengangkatan Paulus sebagai rasul pada Kisah Para Rasul ini? mengenai soal siapa penulis manuskrip Kisah Para Rasul masih diperdebatkan. Adapun kandidat yang paling kuat diyakini sebagai penulisnya adalah Lukas yang juga sebagai rekan kerja Paulus[1].

Sebab kenapa Paulus ini disebut Rasul bagi non-Yahudi adalah karena ialah penginjil atau misionaris Kristen pertama yang menyebarkan kekristenan kepada orang-orang non-Yahudi. Hal ini sebagaimana yang ditulis oleh Paul Suparno dalam bukunya Communal Discernment, menjelaskan bahwa setelah Paulus dan Barnabas mewartakan iman Kristiani di Antiokhia, banyak kalangan non-Yahudi yang kemudian ingin masuk dalam ajaran Kristiani. Mereka mencoba menyebarkan Kristiani diluar komunitas Yahudi[2].

Hal ini kemudian menimbulkan konflik dari kalangan Kristiani komunitas Yahudi, khususnya para tetua-tetua dan murid-murid Yesus. Karena kekristenan awalnya berakar pada Keyahudian, orang-orang kristen awal juga orang-orang Yahudi, serta pula mematuhi hukum-hukum Taurat dan hukum-hukum Halakha Yahudi. Masalahnya, sepanjang abad sejak era awal keyahudian, hukum-hukum taurat dan halakha hanya diperuntukkan kepada umat Yahudi, contohnya seperti hukum sunat/khitan, pantangan makanan, dan lain sebagainya. Jadi, apakah orang-orang non-Yahudi yang beriman pada Yesus ini harus mematuhi hukum-hukum tersebut atau tidak. Akhirnya dibuatlah sebuat muktamar (konsili) pertama dalam sejarah Kristiani yakni Konsili Yerusalem pada tahun 49 Masehi.

Dalam buku Identitas Yesus dan Misteri Manusia, Albertus Sujoko menjelaskan bahwa konsili ini tidak termasuk dalam Konsili Ekumenis (konsili yang melibatkan seluruh sekte Gereja untuk membahas doktrin Kristiani)[3].

Dari muktamar inilah kemudian diputuskan bahwa hukum sunat tidak diwajibkan. Dan hingga sekarang umat Kristiani memahami bahwa sunat bukan suatu kewajiban rohani lagi. Hal ini dikarenakan Paulus berkata Galatia 5:2-4, “Sesungguhnya, aku, Paulus, berkata kepadamu: jikalau kamu menyunatkan dirimu, Kristus sama sekali tidak akan berguna bagimu".

Tidak hanya hukum sunat, hukum pantangan makanan yang disebut kosher dan trefa juga dihapuskan, dan dikatakan bahwa hukum taurat telah dibatalkan karena paulus menyebutnya dalam Galatia 2:16 tegaskan, “Kamu tahu, bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus. Sebab itu kamipun telah percaya kepada Kristus Yesus, supaya kami dibenarkan oleh karena iman dalam Kristus dan bukan oleh karena melakukan hukum Taurat. Sebab: “tidak ada seorangpun yang dibenarkanoleh karena melakukan hukum Taurat.

Hal ini juga disebutkan dalam suratnya Paulus pada Efesus 2:15 berbunyi “sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera.”

Sehingga dari sini dapat ditarik pemahaman bahwa dalam pandangan doktrin Kristen, Tuhan tidak lagi menghukumi manusia atas dasar perbuatannya (yakni apakah ia sunat atau tidak, pantang atau tidak dsb), melainkan apakah percaya akan yesus atau tidak. Dalam hal ini sebagaimana yang mereka pahami dalam Yohanes 3: 18, bahwa hanya ada satu dosa yang akan dihukum di akhir zaman, yaitu dosa tidak percaya kepada Yesus.

Pandangan teologis seperti ini agaknya bertabrakan dengan sabda Yesus sendiri, itu karena Yesus dalam Matius 5: 17 menegaskan bahwa ia akan menggenapi hukum Taurat, namun dalam surat-suratnya Paulus malah membatalkan hukum taurat?.

Hal ini memang terlihat saling bertabrakan, namun St. Thomas Aquinas memberikan penjelasan bahwa yang dibatalkan itu adalah hukum seremonial seperti ibadah qurban, sunat, pantangan makanan, aturan pakaian dsb. Serta hukum yudisial seperti hukuman untuk penzina, pemabuk, pencuri dsb. Adapun yang digenapkan adalah hukum moralnya[4].

Walaupun terdengar begitu apologis, pada era Kristen awal ada umat-umat Kristen Yahudi yang menolak konsep teologinya Paulus ini dan tetap ingin mempertahankan hukum-hukum taurat. Mereka adalah kelompok Ebionit yang juga dikenal Kristen Yahudi atau Yehudim Notzrim.

Ebionit sendiri merupakan komunitas kristen awal yang tidak menjadikan Yesus sebagai tuhan, melainkan hanya sebatas manusia pilihan tuhan serta menolak surat-surat Paulus[5].

Theodotus dari Byzantium seorang penulis Kristen awal dari Byzantium mengajarkan bahwa Yesus adalah laki-laki biasa yang soleh, namun diangkat menjadi kristus atau almasih. Karya abad ke-2 Shepherd of Hermas mungkin juga telah mengajarkan bahwa Yesus adalah orang yang saleh yang dipenuhi dengan Roh Kudus dan diangkat sebagai Anak[6]. Pemahaman teologi kekristenan yang tidak mengakui Yesus sebagai tuhan disebut adopsionisme dan tentunya dicap sebagai sekte sesat oleh mayoritas Kristen yang menganut ajaran hypostasis[7].

Ferdinant C. Baur dalam tesisnya Paulus der Apostel Jesu Christi pada 1845, ia berargumen bahwa awal mula polemik perpecahan dalam tubuh Kekristenan adalah polemik antara Gereja Yerusalem yang dipimpin oleh Yakobus dan Petrus dengan mempertahankan hukum-hukum Taurat dengan gereja hasil kerja misi Paulus. Konflik ini tampak cukup jelas dalam surat Galatia dan Korintus[8].

Diskusi tentang topik ini tampaknya lebih semarak lagi ketika ditemukannya The Dead Sea Scroll atau naskah laut mati Qumran pada tahun 1947. Ada sementara ahli seperti Robert Eisenman yang mengajukan argumentasi bahwa Naskah-naskah Laut Mati menunjukkan adanya kontradiksi di antara jemaat Kristen mula-mula, khususnya antara Yakobus dan Paulus. Dalam hal ini, Yakobus diidentifikasikan sebagai Guru Kebenaran dan Paulus sebagai Sang Pendusta.

Eisenman menyuarakan pandangan-pandangannya dalam beberapa bukunya, di antaranya The Dead Sea Scrolls Uncovered (1993) yang ditulisnya bersama Michael Wise, James The Brother of Jesus (1997), dan juga The Dead Sea Scrolls and the First Christians (2004). Salah satu implikasi dari pandangan Eisenman tersebut adalah munculnya tuduhan bahwa gereja mula-mula mengalami perpecahan antara aliran Kekristenan Yudea (Judeo Christianity) dan Kekristenan Paulus (Pauline Christianity)[9].

Sehingga dapat dipahami bahwa ketika itu kekristenan telah terbagi, ada yang menuhankan Yesus ada juga yang tidak. Ada yang mempertahankan hukum taurat yang disebut Kristen Yahudi (Judaizer) serta pula ada Kristen yang berasaskan pada konsep teologinya Paulus atau Pauline Christianity. Walaupun umumnya umat Kristen tidak setuju dengan istilah ini.

Menurut Hans Lietzmann yakni seorang teolog protestan jerman, istilah "Pauline Christianity" pertama kali digunakan pada abad ke-20 di antara para sarjana yang mengusulkan berbagai aliran pemikiran dalam Kekristenan Awal, dan di mana Paulus memiliki pengaruh yang kuat ketika itu[10].

Akhirnya fenomena ini berkembang kepada isu apakah Paulus telah benar-benar mengubah ajaran murni Yesus, dan menggantikan ajaran-ajaran Yesus dengan ajaran ala Paulus?.

Pandangan ini muncul sejak bermulanya era kritik Bible pada abad ke 18 yang dipelopori oleh Pendeta Richard Simon (1638-1712). Salah satu topik dalam pembahasan kritik bible adalah mengkritisi sosok Yesus apakah ia benar-benar ada dalam sejarah atau tidak. Hal ini diawali oleh karya Hermann Samuel Reimarus yang kemudian seiring waktu karyanya dikenal dengan nama Fragmen Wolfenbüttel. Reimarus membedakan antara apa yang Yesus ajarkan dan bagaimana Dia digambarkan dalam Perjanjian Baru. Menurut Reimarus, Yesus adalah Mesias politik yang gagal menciptakan perubahan politik dan dieksekusi oleh negara Romawi sebagai pembangkang. Murid-muridnya kemudian mencuri tubuh dan mengarang cerita kebangkitan untuk keuntungan pribadi[11].

Kemudian pada tahun 1890 munculah cabang studi Sejarah Agama yang ketika itu disebut Religionsgeschichtliche Schule oleh para teolog Protestan. Studi ini merupakan cabang studi kritik agama dimana mereka menolak klaim kebenaran absolut dalam agama Kristen dan menganggap agama Kristen sama seperti agama-agama lain yang dapat dilacak asal-usulnya dan bagaimana agama ini dibangun dan dipengaruhi oleh ajaran apa. Dimana dari studi ini menyimpulkan bahwa Kekristenan bukan hanya kelanjutan dari Perjanjian Lama, tetapi sinkretistik (atau sudah mengalami percampuran), dan berakar dan dipengaruhi oleh Yudaisme Helenistik (Philo) dan agama Helenistik seperti kultus misteri dan Gnostisisme. Hingga pada kesimpulan status Paulus sebagai sosok pendiri agama Kristen[12].

Walaupun studi kritik sejarah agama baru didisiplinkan pada tahun 1890 di Universitas Göttingen, namun upaya kritik sejarah agama sudah dimulai (setidaknya berdasarkan hasil temuan penulis) oleh seorang orientalis dan sarjana Prancis yakni Ernest Renan pada tahun 1863-1883 dengan judul dalam bahasa Prancis “Histoire des Origines du Christianisme (Sejarah Asal-Usul Kekristenan)”. Karya ini terdiri dari 7 jilid, dan pada bagian jilid yang berjudul St. Paul (1869) ia mengatakan bahwa Kekeristenan sejati akan bertahan dengan Injil yang benar, bukan dengan surat-surat Paulus yang Ernest identifikasikan sendiri sebagai penyebab utama kecacatan dalam teologi Kristen[13].

Kemudian pada akhir abad ke-19 tepatnya tahun 1894 tercatat bahwa ada tulisan yang secara sentimen mengatakan Paulus sebagai rasul palsu dan surat-suratnya mengandung kontradiksi. Hal ini ditulis oleh Frederick Engels seorang filsuf Jerman dan bapak teori Marxis dalam tulisannya On the History of Early Christianityi[14].

Adapun tokoh utamanya yang dikenal mengeluarkan klaim teori ini dalam dunia akademik adalah William Wrede—sarjana liberal dari Jerman—saat menerbitkan buku berjudul Paul (1907). Wrede menolak pendapat bahwa gambaran Paulus tentang Kristus berasal dari pengalamannya terhadap pribadi Yesus atau pengalaman pewahyuannya, melainkan berasal dari kepercayaannya sebelum bertobat. Sebelum percaya kepada Yesus, Paulus telah menganut kepercayaan kepada makhluk-makhluk ilahi seperti Kristus, yang belakangan ia alihkan kepada Yesus yang historis. Menurutnya tanpa campur tangan Paulus, maka Kristen akan menjadi salah satu sekte minoritas Yahudi dan terbelakang. Dengan demikian Wrede memberi label pada Paulus sebagai “the second founder of Christianity.”[15]

Di tahun yang sama (1906) Albert Schweitzer, pemenang Hadiah Nobel Perdamaian tahun 1952, disebut sebagai "salah satu orang Kristen terbesar pada masanya," filsuf, pendeta, misionaris, dan teolog[16] dalam bukunya The Quest for the Historical Jesus and his Mysticism of Paul bahwa Paulus tidak ingin mengenal Kristus[17], Paulus menunjukkan kepada kita dengan ketidakpedulian apapun mengenai kehidupan duniawi Yesus[18].

Pada tahun 1946 seorang pendeta bernama Vincent Arthur Holmes-Gore menulis sebuah buku yang berjudul Christ or Paul? dan menyimpulkan bahwa Paulus telah mengkhianati ajaran Yesus[19].

Namun klaim lebih berani lagi muncul dari seorang teolog Jerman dengan latar belakang Lutheran dan sarjana Bible yang paling berpengaruh pada paruh pertama abad ke-20 bernama Rudolph Bultmann, dalam bukunya Theology of the New Testament (1951) dan secara gamblang dan tegas ia menyatakan bahwa Paul adalah pendiri agama Kristen yang sebenarnya “the true founder of Christianity”.[20] Ia menyimpulkan bahwa cerita tentang kehidupan Yesus (yang mula mula ada di Markus) sebenarnya karangan dari jemaat Hellenistic (dengan latar belakang Greek speaking church)[21].

Tuduhan yang lebih kasar lagi muncul dari presiden Amerika Thomas Jefferson yang mengatakan bahwa Paul adalah sebagai “penipu dan imposter, yang pertama kali mengubah ajaran Yesus” dalam tulisannya Letter to William Short. Seorang novelis Inggris George Bernard Shaw mendeskripsikan doktrin Paulus sebagai "pemaksaan yang mengerikan atas Yesus". Walter Bauer, bapak teologi liberal Jerman abad 19 dalam bukunya Orthodoxy and Heresy in Earliest Christianity (1971) mengklaim "Rasul Paulus adalah satu-satunya bidat Agung yang dikenal pada zaman para rasul".[22]

Hingga dua dekade terakhir, isu ini masih hangat dibicarakan. Presentasi yang paling penuh dan paling kuat terhadap isu ini dipublikasikan pada 1986 oleh seorang sarjana Yahudi terkenal bernama Hyam Maccoby di dalam The Mythmaker: Paul and the Invention of Christianity. Ia menyebut Paulus adalah seorang petualang dan pengkhayal terbesar yang mendirikan kekristenan. Dengan dipengaruhi ide pemikiran dan agama-agama misteri Yunani, Paulus menemukan mitos keilahian Yesus, penebusan Yesus, dan perjamuan kudus. Menurutnya, penulis injil telah mengaburkan Yesus yang pada kenyataannya adalah seorang Farisi sejati yang baik dan setia yang tidak pernah bermimpi untuk melanggar Yudaisme dan menemukan agama baru. Namun sebaliknya, tambahnya, Paulus justru bukan seorang Farisi. Ia adalah kaum marjinal di dalam Yudaisme, seorang pemikir Helenis yang cermat yang kemudian menafsirkan Yesus di dalam kerangka pemikiran Yunani dan Gnostisisme sehingga sukses menciptakan seorang “Yesus” yang adalah produk imajinasi religius dan filosofisnya yang aneh, seorang “Yesus” yang adalah cult-god[23].

Narasi yang serupa juga muncul dalam bukunya Michael Baigent dalam bukunya The Dead Sea Scrolls Deception (1991). Ia menuliskan bahwa “Paulus sebenarnya adalah bidat atau sekte sesat Kristen pertama. Paul belum pernah mengenal secara pribadi sosok yang mulai dia anggap sebagai 'Juruselamatnya'. Dia hanya memiliki pengalaman quasi-mistis di padang pasir dan suara suara tanpa tubuh. Ini juga menuntunnya untuk memutarbalikkan ajaran Yesus tanpa bisa dikenali rumusannya. Pada kenyataannya, teologinya sendiri yang sangat individual, dan kemudian melegitimasinya secara palsu dengan menganggapnya sebagai informasi dari Yesus[24].

Pada tahun 1991 juga Uskup John S. Spong, Uskup Episkopal Newark, New Jersey, AS, menulis dalam bukunya, Rescuing the Bible from Fundamentalism: "Kata-kata Paulus bukanlah Firman Tuhan. Itu adalah kata-kata Paul – perbedaan yang besar[25].” Tentu saja tulisan Spong akan dikritik oleh teolog-teolog Kristen yang lain seperti Rowan Williams, Mark Tooley, Michael Bott sehingga ia dikatakan sebagai penyesat oleh Albert Mohler, president Southern Baptist Theological Seminary, karena menyangkal doktrin arus utama Kristen[26].

Isu ini masih berlanjut pada 1992 dengan terbitnya buku Jesus: A Life yang ditulis oleh A. N. Wilson, seorang penulis biografi dari Oxford. Di dalam salah satu bab, Wilson menjelaskan tentang Kristologi Paulus. Ia berpendapat bahwa, karena pendengarnya mayoritas adalah orang-orang non-Yahudi, Paulus telah mengimplantasi ide mesianik Yahudi ke dalam konsep ilah-ilah non-Yahudi dan menghasilkan figur Mesias mistik yang adalah hasil kejeniusan pemikiran Paulus sendiri. Ia mengatakan Paulus telah mendistorsi injil yang diberitakan Yesus dan menyulapnya menjadi kultus baru yang aneh bernama Cross-tianity. Kepercayaan Paulus tidak sama dengan kepercayaan para murid dari Galilea (seperti Petrus) yang menganggap Yesus sebagai nabi Israel yang terakhir. Ia juga mengatakan bahwa ketiga injil sinoptik ditulis oleh orang-orang yang telah dipengaruhi oleh Paulus sehingga figur Yesus yang digambarkan oleh ketiga injil itu tidak sama dengan Yesus yang historis melainkan Yesus dari kacamata Paulus[27].

Tulisan yang terbaru setidaknya hingga pada tahun 2008 ada sebuah buku dengan judul Hebrew Prophecies of the Coming of Paul tulisan Thomas L. Cosette menjelaskan bahwa Paulus telah membajak gereja seperti yang telah dinubuatkan yang akan dilakukan oleh antikristus, dengan mengatakan bahwa segala sesuatu adalah sah. Bagi yang masih berpegang pada nilai nurani serta membedakan antara kesaksian Paulus dengan para Rasul lain. Maka akan menemukan jika Paulus telah merampas kebenaran[28].

Dalam bukunya Michael Hart's The 100 - Ranking of the Most influential Persons in History Paulus menduduki urutan ke enam setelah Konfusius, Buddha, Yesus, Issac Newton dan Nabi Muhammad. Bahkan pada buku lainnya melupakan pengaruh Paulus dan ia tidak disebutkan dalam bukunya Michael Pollard's yang berjudul 100 Greatest Men[29].

Ada banyak tulisan dari tokoh-tokoh lain yang belum penulis sebutkan disini seperti Will Durant dalam Caesar and Christ-nya, Robert Frost, pemenang hadiah Pulitzer untuk puisi pada tahun 1924,1931,1937 dan 1943 dalam bukunya A Masque of Mercy, James Baldwin, penulis kulit hitam Amerika paling terkenal abad ini, dalam bukunya The Fire Next Time, Martin Buber, filsuf Yahudi paling disegani abad ini, dalam Two Types of Faith, Mistikus, penyair dan penulis terkenal, Kahlil Gibran, dalam Jesus The Son of Man, Teolog terkenal, Helmut Koester, dalam bukunya The Theological Aspects of Primitive Christian Heresy, Filsuf Inggris terkenal Jeremy Bentham, dalam bukunya Not Paul But Jesus, Teolog terkemuka Ferdinand Christian Baur, dalam Church History of the First Three Centuries, serta Carl Jung, psikiater Swiss yang terkenal, dalam esainya A Psychological Approach to Dogma.

Tulisan-tulisan mengenai kritik Paul umumnya merupakan kajian yang dikemas dalam metode studi kritik sejarah agama. Sederhananya sebutan kepada kesenjangan dan polemik antara Paulus dan Yesus disebut Discontinuity yang umumnya berkaitan mengenai dua hal;

Pertama, bahwa dalam sejarah hidup Paulus tidak pernah menjumpai Yesus secara fisik. Adapun mengenai kesaksian-kesaksian teologis bahwa Paulus telah dijumpai Yesus secara mistis maupun menerima informasi darinya secara ghaib tidak dapat dijadikan tolok ukur pembenaran dalam kajian kritik sejarah agama. Dikarenakan dalam studi kritik sejarah agama harus memahami sejarah perkembangan sebuah agama dengan meninggalkan kekangan doktrin-doktrin agama dan diganti dengan tolok ukur ilmiah.

Kedua, mengenai misi Paulus serta doktrin yang dibawanya membuat dirinya dianggap telah mengubah ajaran-ajaran Yesus menjadi gerakan non-Yahudi -atau setidaknya didominasi oleh kalangan non-Yahudi.

Selain dari kalangan sarjana barat, kritik atas Paulus tidak dapat dipungkiri juga muncul dari kalangan umat Muslim. Bedanya, kritik yang dilakukan oleh pemikir muslim umumnya ditinjau dari sudut pandang atau bersifat teologis sedangkan para kritikus yang menggunakan pendekatan akademik dan ilmiah.

Adalah hal wajar apabila umat Muslim mengkritik Paulus atau siapapun dalam ranah teologis, hal ini dikarenakan pengkritik dan yang dikritik sudah berada dalam garis yang berbeda. Mungkin sebagian muslim merasa keheranan apabila melihat realita bahwa yang mengkritik doktrin Kristen adalah para teolog dan ahli agama Kristen itu sendiri. Mungkin ini merupakan buah dari hasil revolusi dalam tubuh gereja sejak abad pertengahan dan sudah lebih terbuka terhadap ragam kritik dan pendapat dibandingkan dengan kondisi pada abad sebelumnya.


_______________  

[1] H.V.D Brink, Tafsiran Alkitab Kisah Para Rasul (BPK Gunung Mulia, 2008) hlm. 10

[2] Paul Suparno, Communal Discernment (Yogyakarta: Kanisius, 2007), hlm 9-14

[3] Albertus Sujoko, Identitas Yesus & Misteri Manusia (Yoyakarta: Kanisius, 2009) hlm, 115


[5] Frederiek Djara Wellem, Kamus Sejarah Gereja (BPK Gunung Mulia, 2006) hlm. 86


[7] Frederiek Djara Wellem, Kamus Sejarah …. hlm. 4

[8] Christianto, Victor. (2015). Kesatuan dan Perbedaan dalam Gereja Perdana (IJT Volume 2, Nomor 2, Desember 2014). Indonesian Journal of Theology. 2. 179-205. 10.46567/ijt.v2i2.74.

[9] Christianto, Victor. (2014). Paulus atau Yakobus? Tinjauan Kritis terhadap Pandangan Eisenman (in bahasa Indonesia). Via researchgate.net. hlm. 1-2

[10] Hans Lietzmann, History of the Early Church, Terj. Beriram Lee Wolf (The World Publishing Company, 1961) Vol. 1 hlm. 206 link

[11] Ulrich Groetsch, Hermann Samuel Reimarus (1694–1768): Classicist, Hebraist, Enlightenment Radical in Disguise (Brill, 2015) hlm. 239-240 link

[12] https://en.wikipedia.org/wiki/History_of_religions_school

[13] Ernest Renan, Saint Paul (Carleton, 1869) hlm. 330 link

[14] Frederick Engels, On the History of Early Christianity, Terj. Institute of Marxism-Leninism, 1957 from the newspaper, Jurnal Die Neue Zeit, 1894–95 via website marxist.org

[15] William Wrede, Paul, Terj. by Edward Lummis (Philip Green: London, 1907) hlm. 179 via link

[16] Douglas J. Davies, A Brief History of Death (Blackwell Publishing, 2005) hlm. 134 link

[17] Albert Schweitzer, The Quest of the Historical Jesus, Terj. W. Montgomery (Dover Publications, 2005) hlm. 2 link

[18] Albert Schweitzer, The Quest …. hlm. 342 link

[19] Martha Helene Jones, The Lost Data on the Chariots of the Elohim (Lulu, 2008) hlm. 211 link

[20] Rudolf Bultmann, Theology of the New Testament, (Scribner's: New York, 1951) hlm. 187 via link

[21] M. Darojat Ariyanto. (2008). RUDOLF BULTMANN: Demitologisasi dalam Perjanjian Baru. SUHUF, Vol. 20, No. 2, Nopember 2008: hlm. 179 via link

[22] Simon Ponsoby, God Is For Us: 52 Readings From Romans (Monarch Book, 2013) hlm. 30 link

[23] David Alinurin, "Apakah keilahian Yesus Merupaan Ciptaan Paulus?: Penyeledikan Terhadap Tradisi Gereja Purba Dalam Surat Paulus". Veritas: Jurnal Teologi dan Pelayanan, Vol.1, No. 1, April 2010, hlm. 51-52.

[24] Michael Baigent & Richard Leigh, The Dead Sea Scrolls Deception (Arrow Books, 2006) hlm. 266 link

[25] J. S. Spong, Rescuing the Bible from Fundamentalism (San Francisco: HarperCollins, 1991) hlm. 104 link


[27] David Alinurin, "Apakah keilahian Yesus Merupaan Ciptaan Paulus?: Penyeledikan Terhadap Tradisi Gereja Purba Dalam Surat Paulus". Veritas: Jurnal Teologi dan Pelayanan, Vol.1, No. 1, April 2010, hlm. 52.

[28] Thomas L. Cossette, Hebrew Prophecies of the Coming of Paul (Xulon Press, 2008), hlm. 108

[29] Simon Ponsoby, God Is For Us: 52 Readings From Romans (Monarch Book, 2013) hlm. 30 link

2 komentar:

  1. jazakallah... semangat admind, semoga ini menjadi berkah dunia dan akhirat, aamiin

    BalasHapus
  2. Kejujuran hati nurani akan menerima kebenaran hakiki

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.