Ads Top

RITUAL PUASA HINGGA MATI: Puasa Sallekhana Agama Jainisme


Puasa merupakan ritual yang umum ada pada tiap agama, hampir semua agama mayoritas memiliki ritual yang satu ini namun dengan rincian dan praktik yang beragam.

Dalam Islam puasa dipahami dengan cara menahan minum dan haus serta berhubungan intim dari sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Hal ini mungkin berbeda dengan agama-agama lain dalam praktiknya.

Puasa dalam agama Jain contohnya yang mempraktikkan puasa dengan sangat ekstrim. Namun setidaknya dalam agama ini dikenal ada beberapa model penerapan praktik puasa oleh umatnya.

Siti Nadroh dalam bukunya Agama-Agama Minor menjelaskan bahwa puasa dalam agama Jain dilaksanakan pada hari-hari tertentu, terutama hari raya tertentu. Berpuasa dilakukan sebagai penebusan dosa, membersihkan badan dan pikiran, seperti Mahavira yang menggunakan banyak waktunya untuk melaksanakan puasa. Ada beberapa jenis puasa, diantaranya:

  • Puasa penuh: tidak makan dan minum secara penuh dalam jangka waktu tertentu.
  • Puasa sebagian: makan lebih sedikit dari yang dibutuhkan untuk mencegah rasa lapar.
  • Vruti Sankshepa: membatasi jenis makanan yang dimakan.
  • Rasa Parityaga: menghindari makanan yang disenangi.
  • Puasa agung: beberapa pendeta jain berpuasa berbulan-bulan dalam sekali puasa.

Ada ritual yang unik dalam Jainisme berkaitan dengan puasa yang disebut sumpah Sallekhana, yaitu berpuasa sampai mati atau disebut juga santhara. Sumpah sallekhana diambil ketika seseorang merasa bahwa kehidupannya telah mencapai puncaknya. Tujuan dari sumpah ini untuk membersihkan karma lama dan mencegah terciptanya karma yang baru[1].

Puasa ini dapat dikerjakan oleh para pertapa Jainis maupun golongan perumah tangga. Seorang yang mengambil sumpah ini harus memiliki izin dari guru spiritual agamanya beserta keluarganya yang nanti akan menjaganya saat prosesi ritual puasa tersebut.

Saat seseorang mencapai kematian, akan diadakan perayaan di mana jenazah dibungkus dengan kain putih dan dimasukkan ke dalam tandu berhias baik dalam posisi duduk atau dalam posisi lotus, berbeda dengan posisi berbaring yang lazim dalam agama Hindu. Posisi di atas tumpukan kayu ini melambangkan bahwa orang tersebut akan mencapai moksa[2].

Dalam kitab Acharanga Sutra menjelaskan bahwa ada tiga bentuk cara penerapan puasa sallekhana ini[3]:

Pertama, Bhaktapratyakhyana, dimana orang yang ingin menjalankan sumpah ini harus memilih tempat terpencil dan kemudian dia berbaring di atas tempat tidur yang terbuat dari jerami, kemudian tidak menggerakkan anggota tubuhnya, dan menghindari makanan dan minuman sampai dia meninggal.

Kedua, Ingita-marana, dimana orang tersebut tidur di atas tanah kosong. Bisa juga dengan cara duduk, berdiri, berjalan, atau bergerak, tetapi menghindari makanan sampai dia mati.

Ketiga, Padapopagamana, dimana seseorang berdiri "seperti pohon" tanpa makan dan minum sampai mati.

Jainisme, seperti agama lain, menganggap bunuh diri sebagai perbuatan dosa dan salah. Namun, sallekhana dikategorikan secara berbeda. Membuat diri lapar dengan sengaja adalah berbeda karena ini adalah pengakuan bahwa tubuh manusia akan musnah. Ini tidak dipandang sebagai perilaku aktif bunuh diri, tetapi semata-mata penolakan untuk memperpanjang saat menanti kematian yang tidak dapat dihindari[4].

Dalam pandangan agama Jain, kematian yang "tidak murni" karena bunuh diri melibatkan peningkatan nafsu; kematian yang "murni", seperti dalam sallekhana, tidak. Ini adalah perbedaan penting bagi teologi Jain; nafsu dilihat sebagai penyebab langsung masuknya ketidakmurnian karma ke jiwa dan dengan demikian mengakibatkan kelahiran kembali di tingkat yang lebih rendah, sementara keadaan pikiran yang tanpa nafsu mengarah pada lenyapnya akumulasi karma dan kehancuran karma yang sudah melekat pada jiwa seseorang. Jadi, dalam keyakinan Jain, dengan membebaskan diri dari nafsu, seseorang membebaskan jiwa. Lebih lanjut, sallekhana harus dilihat sebagai ekspresi tertinggi dari doktrin Jain tentang ahimsa atau non-kekerasan, karena dengan berhenti makan, seseorang menghentikan kehancuran baik yang disengaja maupun tidak disengaja dari semua makhluk hidup. Setidaknya begitulah cara pandangan penganut Jainisme[5].

______________

[1] Siti Nadroh & Syaiful Azmi, Agama-Agama Minor (Jakarta: Paramedia Group, 2015) hlm. 152-153

[2] G. S Sachdeva, Sacred and Profane: Unusual Customs and Strange Rituals (SAGE Publication, 2020) hlm. 109

[3] Ram Bhushan Prasad Singh, Jainism in Early Medieval Karnataka (Delhi: Motilal Banarsidass, 2008) hlm. 62-63

[4] Nury Vittachi, The Kamasutra of Business: Ajaran Klasik India untuk Dunia Bisnis Modern, Terj. Ratih Ramelan (Bandung: Mizan,2007) hlm. 92

[5] Margaret Pabst Battin, The Ethics of Suicide: Historical Sources (Oxford University Press, 2015) hlm. 47

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.